Bagaimana Pembelajaran Seyogianya Diorganisasikan ?

Secara sederhana pembelajaran dapat kita artikan sebagai segala upaya penataan lingkungan belajar yang memungkinkan peserta didik dapat belajar dengan atau tanpa kehadiran guru. Penataan mengandung pengertian menyiapkan dan memanfaatkan lingkungan belajar dapat berupa sumber belajar, sarana/alat belajar, dan suasana/iklim kelas. Proses belajar mencakup aktivitas peserta didik dalam mencari dan atau menerima dan mengolah informasi, melibatkan diri dalam interaksi sosial, bersikap dan berbuat, dan mengatur dan memantapkan prilaku.
Dalam rangka penataan dan pemanfaatan lingkungan belajar tersebut, guru sebagai pengarah dan pemberi kemudahan belajar (director and facilitator of learning) dituntut untuk dapat melakukan aktivitas sebagai berikut :
a.    Menyajikan sesuatu
b.    Menumbuhkembangkan proses berpikir
c.    Membina interaksi sosial, dan
d.    Mengajar bagaimana belajar.
Marilah kita sama-sama mengkaji keempat hal tersebut.
a. Menyajikan sesuatu
Penyajian sesuatu (lisan, tertulis, terekam, atau tersiar) adalah prasarat terjadinya proses kognitif (asimulasi dan akomodasi) dalam diri pelajar. Kapan dan dimana pun serta bagi siapa pun proses stimulasi selalu diperlukan. Penyajian sesuatu yang baik, potensial bagi terjadinya proses kognitif yang baik. Karena itu “dalam berbagai situasi guru atau pembelajar harus menunjukkan peranan penting sebagai penyaji (presenter)” (Shostak, 1997).
Penyajian dapat berupa penyampaian fakta, konsep, dan prinsip baru; penjelasan prosedur yang sulit; penjernihan hal-hal yang saling bertentangan; dan eksplorasi hal-hal yang rumit. Dalam penyajian terlibat prilakuverbal dan fisik (termasuk yang berupa isyarat). Seperti dikutip oleh Gagne dan Berlinier Shostak, penggunaan dengan terampil kedua prilaku itu memberi pengaruh positif yang kuat terhadap proses belajar peserta didik.
Bagaimana seharusnya guru/pembelajar memulai penyaji ? Agar penyajian sesuatu benar-benar terangsang dan menantang (stimulating) guru harus menguasai tiga keterampilan yakni : orientasi, transisi, dan evaluasi.
Kegiatan orientasi memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
1)    Digunakan untuk memusatkan perhatian pebelajar terhadap sajian.
2)    Menggunakan kegiatan, peristiwa, objek, atau manusia yang dikenal atau dialami oleh pebelajar.
3)    Memberi panduan atau rujukan bagi pebelajar untuk memvisualkan isi sajian.
4)    Membantu memperjelas tujuan penyajian.
Kegiatan transisi memiliki ciri-ciri :
1)    Digunakan terutama untuk mengatur peralihan dan hal-hal yang telah diketahui dan yang belum diketahui.
2)    Menggunakan contoh atau analogi.
Sedang kegiatan evaluasi memiliki ciri-ciri :
1)    Digunakan untuk menilai hal-hal yang telah dipahami pebelajar, dan
2)    Berorientasi pada kegiatan pebelajar.
Awal penyajian yang baik erat kaitannya dengan proses stimulasi yang dapat merangsang terjadinya proses asimilasi dan ekuilibrasi serta akomodasi dalam proses kognitif (Piaget). Atau dengan perkataan lain awal penyajian yang baik merupakan “trigger” atau pembuka terjadinya proses pengolahan informasi oleh pebelajar.
Dalam rangka proses stimulasi konsep dan temuan penelitian psikologi mengajak kita untuk selalu berasumsi, bahwa kelompok pebelajar selalu memiliki perbedaan individual. Karena perbedaan tersebut, maka tidak semua jenis stimulus memiliki daya rangsang yang sama bagi setiap orang. Karena para ahli psikologi belajar antara lain Gagne (1997) menegaskan perlunya variasi stimulus atau rangsangan yang serba aneka. Untuk itu maka, setiap guru/pembelajar seyogianya menguasai dan menerapkan sejauh mungkin teknik variasi stimulus sebagai berikut :
1)    Variasi gerak/kenetik
2)    Pemusatan (focusing)
3)    Alih interaksi
4)    Tempo, dan
5)    Alih perhatian
Suatu penyajian yang diawali dengan baik juga diakhiri dengan baik. Akhir suatu penyajian atau “closure” menunjuk pada tindakan atau pernyataan guru yang dirancang untuk membawa penyajian menuju kesimpulan yang tepat “(Shostek, 1997 ). Di samping itu, juga untuk membantu pebelajar mengendapkan hal-hal yang mereka pelajari ke dalam pikirannya. Dengan demikian terbentuk “Skemata” (Piaget) yang tertata rapi.
Penutupan sajian atau “closure” dapat berbentuk :
1)    Review berupa ulasan, butir-butir pokok, urutan, hubungan, atau berupa ringkasan.
2)    Transfer berupa meminta perluasan atau penerapan hal-hal yang telah dipelajari.
3)    Serendipity (suatu hal tanpa direncanakan) berupa penutupan sajian yang kontekstual (sesuai situasi).

b. Menumbuhkembangkan Proses Berpikir
Merangsang, mengarahkan, memelihara, dan meningkatkan kadar atau intensitas proses berpikir peserta didik/pebelajar dapat dipandang sebagai salah satu tugas professional guru. Proses perpikir menurut pandangan psikologi kognitif melibatkan proses menyesuaikan skemata dengan objek menggunakan skemata untuk memberi respon dan memecahkan masalah, dan membangun serta menyusun skemata baru. Dalam bentuk dimensi prilaku proses kognitif menurut Bloom dkk. (1962) mencakup pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi. Pengetahuan berkenaan dengan pengenalan cara pengulangan informasi; pemahaman berkenaan dengan pengertian tentang sesuatu; penerapan berkenaan dengan penggunaan konsep atau penafsiran konsep; analisis berkenaan dengan memecah-mecah sesuatu dan mamahami pecahan itu; sintesis berkenaan dengan pembentukan atau menyimpulkan beberapa hal; dan evaluasi berkenaan dengan penggunaan kriteria dalam mengkaji sesuatu. Keenam kategori prilaku kognitif tersebut sering juga disebut proses intelektual (intelectual process).
Temuan-temuan penelitian, seperti diintisarikan oleh Sadker dan Sadker (1977) menguatkan pentingnya aktivitas bertanya guru dalam proses pembelajaran. Lebih jauh lagi ditegaskan bahwa untuk dapat menjadi guru yang efektif seseorang harus menjadi penanya (questioner) yang efektif. Langkah pertama yang harus dilakukan guru dalam bertanya dalam mengenal ciri-ciri pertanyaan, melayani berbagai fungsi, dan membangun taraf berpikir yang berbeda-beda atau bervariasi mulai dari mengingat fakta sampai pada menilai sesuatu.
Tingkat pertanyaan yang dapat memacu proses berpikir adalah pertanyaan tingkat tinggi yakni pertanyaan pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi. Sedang pertanyaan tarap rendah yakni pertanyaan ingatan hanyalah untuk melatih proses kognitif pengetahuan. Karena itu di dalam proses pembelajaran, guru dianjurkan untuk lebih banyak mengajukan pertanyaan tingkat tinggi (higher-order question). Pertanyaan jenis-jenis ini dapat merangsang proses asimilasi dan akomodasi ekuilibrasi dalam konteks proses kognitifnya Piaget. Karekteristik potensial daya rangsang setiap pertanyaan taraf tinggi dapat dikemukakkan sebagai berikut :
1)    Pertanyaan Pemahaman menuntut peserta didik mendemontrasikan bahwa ia mempunyai pengertian yang memadai untuk mengorganisasikan dan menyusun secara mental. Untuk dapat menjawab pertanyaan ini peserta didik harus memiliki fakta yang berarti. Dengan demikian ia harus berbuat lebih dari pada mengingat. Ia harus mampu menangkap suatu makna dan menjelaskan makna tersebut dengan menggunakan kata-kata sendiri. Contohnya : Apakah ide yang terkandung dalam diagram itu ? kata kerja yang biasa digunakan dalam pertanyaan pemahaman antara lain :
•    Menguraikan
•    Membandingkan
•    Membedakan
•    Mengungkapkan
•    Menjelaskan ide pokok.

2)     Pertanyaan Penerapan menuntut peserta didik untuk menerapkan informasi yang telah dipelajari dalam menemukan jawaban terhadap suatu masalah. Kata kerja yang biasa digunakan dalam pertanyaan penerapan antara lain ;
•    Menerapkan
•    Mengklasifikasikan
•    Menggunakan
•    Memilih
•    Menempatkan
•    Menulis contoh
•    Memecahkan
•    Menghitung

3)     Pertanyaan Analisis menuntut peserta didik untuk berpikir secara kritis dan mendalam. Dalam pertanyaan analisis mencakup tiga proses kognitif :
a)    Menemutunjukkan motif, alasan, dan penyebab dari suatu keadaan tertentu;
b)    Mempertimbangkan dan menguraikan informasi yang ada untuk mencapai suatu kesimpulan, inferensi, atau generalisasi; dan
c)    Menganalisis suatu kesimpulan, inferensi, atau generalisasi dalam rangka menemukan bukti-bukti yang mendukung atau menolak.
Kata kerja yang digunakan dalam pertanyaan analisis antara lain :
•    Menemutunjukkan sebab-sebab
•    Menarik kesimpulan
•    Menentukan bukti-bukti
•    Mendukung, dan
•    Menganalisis
4)     Pertanyaan Sintesis menuntut peserta didik untuk (a) berkomunikasi secara orisinil, (b) membuat prediksi atau perkiraan, (c) memecahkan masalah.
Kata kerja yang biasa digunakan dalam pertanyaan sintesis antara lain :
•    Memprediksikan
•    Memproduksi
•    Menulis
•    Merancang
•    Mengembangkan
•    Mensintesiskan
•    Mengkonstruksi
5)     Pertanyaan Evaluasi menuntut jawaban yang bervariasi dengan ciri pokok di mana peserta didik menilai suatu idea, pemecahan masalah, atau pekerjaan/karya seni, atau bisa juga menawarkan pendapat mengenai suatu isu
Kata kerja yang biasa digunakan dalam pertanyaan evaluasi antara lain :
•    Menilai
•    Berargumentasi
•    Menetapkan
•    Mengkaji
•    Member pendapat.
Untuk kelima tingkat pertanyaan tinggi di atas, dapat digunakan kata tanya apa, mengapa, dan bagaimana dalam konteks yang sesuai dengan ciri proses berpikir pada masing-masing tingkat kognitif. Sedangkan kata tanya siapa, di mana, kapan lebih banyak digunakan pada pertanyaan tingkat rendah yakni ingatan.

Dalam kaitannya dengan upaya menumbuhkembangkan proses berpikir pebelajar, dalam keterampilan bertanya lanjut terdapat satu dimensi kegiatan yang disebut probing atau pelacakan. Proses probing ini erat kaitannya dengan proses melatih perluasan (extending) dan peningkatan (lifting) intensitas proses akomodasi. Proses lifting digunakan untuk menaikturunkan tingkat pertanyaan, misalnya dari pertanyaan ingatan ke pemahaman atau dari pemahaman ketingkat atasnya. Proses extending digunakan untuk perluasan cakrawala pandang tentang sesuatu. Misalnya menambah contoh lain, atau penerapan konsep lainnya. Jadi, Lifting bersifat vertikal sedang extending bersifat horizontal.
PROSES KOGNITIF
( Asimilasi, akomodasi, ekuilibrasi)
Evaluasi (C6)
Proses
‘’Lifting’’    Sintesis (C5)
Analisis (C4)

Penerapan (C3)    (C3)    (C3)         (C3)        (C3)      dst.

Pemahaman (C2)
Ingatan (C1)
Proses extending

c. Membina Interaksi Sosial
Interaksi Sosial secara sederhana dapat diartikan sebagai hubungan timbal balik antara individu dalam suasana kebersamaan. Hal ini terjadi sebagai akibat logis dari hidup bermasyarakat dan dari dimilikinya kemampuan berpikir dan merasa yang dimungkinkan manusia dapat mengalami dan menyampaikan pikiran dan perasaannya itu kepada orang lain. Cabang Psikolog Humanistik memberi dasar yang kuat mengenai pandangan terhadap manusia sebagai makhluk yang unik yang memiliki kemampuan menetapkan tujuan, membuat pilihan, dan melakukan tindakan (Sokolove, Soaker, dan Soaker, 1997). Kemampuan itulah yang memungkinkan terjadinya interaksi sosial.
Proses interaksi sosial ini diperkuat oleh kemampuan manusia untuk berbahasa yakni menciptakan dan menggunakan simbol-simbol dalam mengatakan pikiran dan perasaan sendiri dan dalam memahami dan menerima pikiran dan perasaan orang lain. Bahasa tersebut dapat berupa Verbal maupun non verbal. Bahasa verbal dapat berupa lisan atau tulisan. Dengan bahasa inilah manusia mengembangkan pikiran dan perasaannya serta tindakannya.
Proses pembelajaran merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari proses sosial. Lingkungan kelas atau sekolah juga merupakan bagian yang tak terpisahkan dari lingkungan masyarakat. Karena itu guru dan peserta didik merupakan bagian yang utuh dari proses sosial. Dalam konteks inilah keterampilan komunikasi interpersonal memegang fungsi dan peranan penting bagi keduanya (guru-peserta didik).
Bagaimana keterampilan komunikasi interpersonal diterapkan dalam pembinaan interaksi sosial di sekolah ? Sehubungan dengan pertanyaan tersebut, Sokolove dkk. (1977 : 342) membuat table sebagai berikut :

Tabel 1. Taxonomy Keterampilan Komunikasi Interpersonal
PROSES DIRI PESERTA DIDIK    KETERAMPILAN GURU
Kluster III
Mendorong perilaku alternatif
Praktek perilaku alternatif
Kluster II
Menjernihkan ekspresi perasaan
Refleksi, Inventori, Bertanya
Kluster I
Memunculkan ekspresi perasaan
Memperhatikan Perilaku
Mendengarkan dengan aktif

-    Perhatian terhadap perilaku dilakukan melalui :
•    Kontak pandang
•    Isyarat tubuh
•    Bahasa lisan tubuh
–    Pendengaran aktif dilakukan melalui :
•    Diteksi pesan
•    Pemahaman pesan

-    Refleksi dilakukan dalam bentuk :
•    Pemberian balikan
•    Verbal atau non verbal
–    Inventori dilakukan dengan cara mengajukan pertanyaan pikiran atau perasaan atau pengalaman.
–    Eksplorasi perilaku alternative dilakukan dengan cara membangkitkan pilihan perilaku, mempraktekkan perilaku, menerima balikan dari yang lain, memperkirakan konsekuensi, dan memilih pola perilaku.
Taxonomy tersebut di atas dapat digunakan oleh guru dalam membina interaksi sosial dalam rangka prores pembelajaran.

d. Mengajar Bagaimana Belajar
Prinsip belajar yang menitikberatkan pada aktivitas pebelajar/peserta didik sudah diterima sebagai esensi proses pembelajaran di jenjang pendidikan mana pun. Konsep dan sekaligus pendekatan SAL (Student Active Learning) atau CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif) telah banyak diuji keberhasilannya. Seperti untuk Indonesia, CBSA model Cianjur sudah dikenal sebagai pendekatan belajar yang memiliki banyak keunggulannya. Terutama bila model itu dibandingkan dengan model belajar mengajar yang berorientasi pada guru.
Konsep dan pendekatan belajar Siswa Aktif atau apapun namanya, pada hakikatnya merupakan model pembelajaran yang memusatkan perhatian lebih pada pengembangan keteranmpilan bagaimana belajar (how to learn skill) dari pada penyemburan pengetahuan (dissemination of knowledge) oleh guru. Tentu saja hal ini tidaklah berarti bahwa peran guru menjadi hilang, malah bertambah kompleks dengan peran sebagai fasilitator atau pemberi kemudahan belajar. Dengan demikian belajar dalam arti membuat peserta didik belajar pengertiannya menekankan pada konsep dan proses mengajar, bagaimana belajar.
Model-model belajar pilihan yang disajikan pada modul 2 yang lalu memiliki kerangka konseptual dan operasional yang mewadahi misi membelajarkan bagaimana belajar. Modul-modul tersebut dilihat oleh Houston dkk. (1988) sebagai “Student directed strategies” atau strategi yang diarahkan oleh pelajar sendiri. Atau pengertian sebagai strategi belajar mandiri atau “indirect instruction” menurut konsep Borich (1988).
Dalam penerapan pendekatan mengajar bagaimana belajar harus selalu mempertimbangkan adanya perbedaan individual (individual differences) terutama perbedaan dalam gaya atau cara belajar (learning style). Karena proses pembelajaran di sekolah saat ini berlangsung secara klasikal dengan guru tunggal, maka pelayanan individual akan memiliki banyak kendala. Untuk mengatasi hal tersebut, maka strategi pengelompokan peserta didik menjadi penting. Dalam pengelompokan tersebut dimensi belajar mandiri dapat diwadahi dalam konteks belajar kelompok (cooperative learning).

1.2   Bagaimana Implikasi Praktis Teori Terhadap Pola Umum  Pembelajaran?
Salah satu cara melihat pola umum pembelajaran adalah dengan mengasumsikan adanya suatu continuum atau rentangan diantara dua pola besar. Di bawah ini dikemukakan beberapa continuum tersebut,yaitu:
1.    Kontinuuum Houston dan kawan- kawan (1988)
Teacher    ├─────────────────┤ Stuydent – Focused
Focused                                                         Instructional
Instruction
2.    Kontinuum Borich (1988)
Direct          ├─────────────────┤ Indirect
Instruction                                                    Instruction
3.    Kontinuum CBSA P3G (1980)
CBSA          ├─────────────────┤  CBSA
Rendah                                                            Tinggi
4.    Kontinuum Balzano (1976)
Structured   ├─────────────────┤ Unstructured
Classroom                                                       Classroom
5.    Kontinuum Flanders (1967)
Dominative  ├─────────────────┤Integrated
Classroom                                                        Classroom
6.    Kontinuum Fenton (1966)
Expository   ├─────────────────┤ Inquiry

Semua continuum tersebut mencoba menempatkan dua pola konseptual yang esklusif dengan orientasi berlawanan. Di antara dua pola merentang garis yang melukiskan tempat atau kedudukan relative dari pola-pola konseptual memiliki unsure-unsur dua pola ekstrim dengan kadar berbeda-beda. Keenam Kontinuum tersebut jelas menggunakan peran guru dan peserta didik sebagai dasar dari kedua pola ekslusif itu. Titik ekstrim kiri menggambarkan titik dimana proses pembelajaran menitikberatkan pada guru, sedang titik ekstrim kanan melukiskan titik dimana proses pembelajaran menitikberatkan pada peserta didik sebagai pebelajar.

Adapun dari beberapa continuum yang ada salah satunya Kontinuum  Fenton (1966) melihatnya dari proses pengolahan informasi, sebagai berikut:

Expository   ├─────────────────┤ Inquiry

EXSPOSITORY    INQUIRY
Berorientasi pada isi     berorientasi pada proses
Peran guru dominan     Peran siswa dominan
Memenhi tujuan kognitif    Mencapai tujuan kognitif,afektif, psikomotor
Klasikal     Individual dan kelompok
Sumber belajar terbatas     Variasi sumber belajar
Retensi rendah     Retensi tinggi
Kurang fungsional     Sangat fungsional
Menekankan dampak intruksional     Induktif dan deduktif
Deduktif    Menekankan dampak instruksional dan dan dampak pengiring
Partisipasi siswa terbatas    Partisipasi siswa optimal

Untuk melihat implikasi dalam hal ini dipilih menggunakan Kontinuum Borich (1988) sebagai dasar. Continuum ini dipilih sebagai konseptual, karena merupakan kontinum yang cukup elaborative dalam penempatan cirri-ciri metodologisnya.

a.    Indirect Instruction (pembelajaran tak langsung)

Analisis implikasi dari teori model belajar dan pembelajaran yang ada terhadap setiap langkah pada sintaks itu meliputi:

BEBERAPA AKTIVITAS “INDIRECT INSTRUCTION”
1)    Memberikan sarana pengorganisasian isi pengajaran awal
2)    Memberikan aktivitas konsep jual dengan menggunakan konsep induktif dan deduktif
3)    Menggunakan contoh dan bukan contoh
•    Menetapkan atribut kreteria
•    Membangun generalisasi
•    Memperluas contoh
•    Memperkaya konsep
4)    Menggunakan pertanyaan untuk membimbing proses pencarian dan penemuan
•    Mengajukan kontradiksi
•    Melacak respon lebih dalam
•    Memperluas diskusi
5)    Mendorong mahasiswa/siswa untuk menggunakan contoh dan rujukan pengalaman
•    Mencari penjelasan
•    Membuat asosiasi
6)    Mendorong mahasiswa/siswa untuk menilai kesesuaian tanggapan mereka dan memberi bimbingan yang diperlukan
7)    Mengorganisasikan diskusi untuk mendorong proses berpikir kritis dan membantu mahasiawa/siswa untuk menguji alternative, pemecahan, dan membuat prediksi.

Indirect Instruction memiliki Format Pengembangan Model Pengajaran Tak Langsung. Bila di lihat dari aspek teoretik, rangkaian kegiatan dalam ”Inderect Instruction” memberi kesan padat dengan konsep dan prinsip,dengan dasar model pembelajaran ”Pengelolaan Informasi”. Proses belajar yang ditonjolkan adalah belajar konsep atau “Consept learing”, dan belajar pemecahan masalah atau “problem solving learning”. Sasaran belajaran yang utama adalah keterampilan intelektual atau “intellectual skills. Guru dan peserta didik dituntut untuk sama-sama aktif dalam status dan peran masing-masing. Aktivitas guru dititikberatkan pada pemberian kemudahan belajar, antara lain dalam bentuk pengorganisasian stimulasi yang bervariasi yang dirancang untuk membangkitkan dan sekaligus memelihara proses belajar, dan mengantisipasi kemungkinan penerapan dan hasil belajar.
Meskipun aktivitas tersebut dalam ”Inderect Instruction” itu terkesanpadat konsep dan prinsip, semuanya memiliki implikasi praktis. Pada tahap perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran guru dapat menggunakan kerangka aktivitas tersebut. Untuk memberikan kemudahan kepada guru, Borich (1988) menawarkan penggunaan.
b.    Direct Instruction (pembelajaran  langsung)

Analisis implikasi dari teori model belajar dan pembelajaran yang ada terhadap setiap langkah pada sintaks itu meliputi:

BEBERAPA AKTIVITAS “DIRECT INSTRUCTION”
1)    Review
•    Pengecekan pekerjaan yang lalu
•    Pengajaran ulang
2)    Penyajian bahan baru
•    Memberi pandangan umum
•    Menjabarkan langkah khusus
3)    Membimbing kegiatan mahasiswa/siswa
•    Memberikan penegasan
•    Memberi umpan balik khusus
•    Mengecek pengertian
•    Melanjutkan kegiatan
4)    Memberikan koreksi atau umpan balik
•    Memberi koreksi
•    Memberi umpan balik umum
5)    Memberi latihan bebas
6)    Review mingguan dan bulanan

Bila dilihat dari jenis dan rangkaian kegiatan “ Direct Instruction”mengutamakan pendekatan deduktif, dengan titik berat pada proses belajar konsep. Suasana pembelajaran terkesan lebih terstruktur dengan peranan guru yang lebih dominan. Fenomena umum pembelajaran di Indonesia sangat terkesan mendekati pola umum ini.

Walaupun demikian model pengajaran langsung ini ,kemungkinan besar masih tetap dipakai sambil secara berangsur-angsur menerapkan konsep dan prinsip kemandirian belajar. Untuk keperluan praktis Borich (1988) menawarkan penggunaan Format masih sama seperti pada  “ Indirect Instruction” tetapi dengan judul kegiatan belajar dan rincian kegiatan belajar yang berbeda.

About these ads

About astitirahayu

saia maHasiswa.. yang masiH daLam pRoses beLajar,, ,,tapiii,, memPunyai keinGinan kuAt unTuk biZa ,, ,tetap berusaha jaDi yg tErbaik tuK gapai miMpi.. ;,,keep smiLe,,

SiLahkaN koMentaR di bawah iNii khawand''....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s