A. Konsep-Konsep Psikologi dalam Rangka Pembelajaran
Psikologi adalah suatu ilmu pengetahuan yang mengkaji perilaku individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Perilaku yang dimaksud adalah perilaku motorik, perilaku kognitif, dan perilaku afektif. Perilaku motorik yaitu perilaku dalam bentuk gerakan. Perilaku kognitif ialah perilaku dalam bentuk bagaimana individu mengenal alam disekitarnya (kemampuan berpikir). Perilaku afektif ialah perilaku dalam bentuk perasaan atau emosi.
Pendekatan utama dalam psikologi yaitu: Pendekatan behaviorisme, lebih mengutamakan hal-hal yang nampak dari individu. Perilaku adalah segala sesuatu yang bisa di amati oleh alat indera sebagi hasil dari interaksi dengan lingkungnnya. Pendekatan psikoanalisa, lebih mengutamakan hal-hal yang ada di bawah kesadaran individu. Pendekatan kognitif, perilaku sebagai proses internal, yang merupakan suatu proses input-output yaitu penerimaan dan pengolahan hasil dari informasi, untuk kemudian menghasilkan keluaran. Pendekatan humanistik, bahwa manusia sudah awalnya mempunyai dorongan untuk mewujudkan dirinya sebagai manusia di lingkungannya. Pendekatan neurobiologi yang mengaitkan perilaku individu dengan kejadian di dalam otak dan syarafnya. Psikologi pendidikan yaitu cabang psikologi secara khusus mengkaji berbagai perilaku individu dalam kaitannya dengan pendidikan, tujuannya untuk menemukan fakta, generalisasi, dan teori psikologis yang berkaitan dengan pendidikan untuk digunakan dalam upaya melaksanakan proses pendidikan yang efektif. Peranan psikologi dalam pembelajaran dan pengajaran yaitu: memahami siswa sebagai pelajar, memahami prinsip dan teori pembelajaran, memilih metode-metode pengajaran, menetapkan tujuan pembelajaran, menciptakan situasi pembelajaran yang kondusif, memilih dan menetapkan isi pengajaran, membantu siswa yang mendapat kesulitan dalam pembelajaran, memilih alat bantu pengajaran, menilai hasil pembelajaran, memahami kepribadian dan profesi guru, membimbing kepribadian siswa.
Pembelajaran adalah suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh suatu perubahan perilaku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Beberapa prinsip yang menjadi landasan pengertian tersebut ialah :
1.    Pembelajaran sebagai suatu usaha memperoleh perubahan perilaku. Prinsip ini bermakna bahwa prosees pembelajaran itu ialah adanya perubahan perilaku dalam diri individu.
2.    Hasil pembelajarn ditandai dengan perubahan perilaku secara keseluruhan.
3.    Pembelajaran merupakan suatu proses. Prinsip ini mengandung makna bahwa pembelajaran merupakan suatu aktifitas yang berkesinambungan.
4.    Proses pembelajaran terjadi karena adanya sesuatu yang mendorong dan ada suatu tujuan yang ingin dicapai.
5.    Pembelajaran merupakan suatu pengalaman.

a). Perkembangan Kognitif dan Implikasinya terhadap Pembelajaran
Teori perkembangan kognitif merupakan salah satu aspek perkembangan mental yang bertujuan :
(1) memisahkan antara kenyataannya dengan fantasi
(2) menjelajah kenyataan dan menemukan hukum-hukumnya
(3) memilih kenyataan-kenyataan yang berguna bagi kehidupan
(4) menentukan kenyataan yang sesungguhnya di balik sesuatu yang nampak.
Pekembangan kognitif merupakan suatu proses di mana tujuan individu melalui suatu rangkaian yang secara kualitatif berbeda dengan berfikir. Perkembangan kognitif merupakan pertumbuhan berfikir logis dari masa bayi hingga dewasa, yang menurut Piaget (Bell-Gredler, 1986: 205) berlangsung melalui empat peringkat yaitu:
1.    Peringkat sensori motor (0-1,5 tahun), aktivitas kognitif berpusat pada alat indera (sensori) dan gerak (motor). Aktivitas ini terbentuk melalui proses penyesuaian fisik sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungan.
2.    Peringkat pre-operational (1,5-7 tahun), aktivitas berfikirnya belum mempunyai sistem yang terorganisir. Cara berfikir ini bersifat tidak sistematis, tidak konsisten dan tidak logis.
3.    Peringkat concrete operational (7-14 tahun), perkembangan kognitif pada peringkat operasi kongkrit, memberikan kecakapan anak berkenaan dengan konsep-konsep klasifikasi, hubungan dan kuantitas.
4.    Peringkat formal operational (14 tahun ke atas), perkembangan kognitif ditandai dengan kemmpuan individu untuk berfikir secara hipotetis dan berbeda dengan fakta, memahami konsep abstrak.
Impilkasi teori perkembangan kognitif Piaget dalam pengajaran antara lain :
1.    Bahasa dan cara fikir anak berbeda dengan orang dewasa oleh karena itu dalam mengajar guru hendaknya menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir anak.
2.    Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik. Guru harus membantu agar dapat berinteraksi dengan lingkungan dengan baik.
3.    Bahan yang akan dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing.
4.    Beri peluang agar anak mau belajar sesuai dengan peringkat perkembangannya.
5.    Di dalam kelas hendaknya anak-anak diberi peluang untuk saling berbicara dan berdiskusi dengan teman-temannya.

b). Perkembangan Afektif dan Implikasinya terhadap Pembelajaran
Kemampuan afektif berhubungan dengan minat dan sikap yang dapat berbentuk tanggung jawab, kerjasama, disiplin, komitmen, percaya diri, jujur, menghargai pendapat orang lain, dan kemampuan mengendalikan diri. Semua kemampuan ini harus menjadi bagian dari tujuan pembelajaran di sekolah, yang akan dicapai melalui kegiatan pembelajaran yang tepat. Masalah afektif dirasakan penting oleh semua orang, namun implementasinya masih kurang. Hal ini disebabkan merancang pencapaian tujuan pembelajaran afektif tidak semudah seperti pembelajaran kognitif dan psikomotor. Satuan pendidikan harus merancang kegiatan pembelajaran yang tepat agar tujuan pembelajaran afektif dapat dicapai. Keberhasilan pendidik melaksanakan pembelajaran ranah afektif dan keberhasilan peserta didik mencapai kompetensi afektif perlu dinilai. Oleh karena itu perlu dikembangkan acuan pengembangan perangkat penilaian ranah afektif serta penafsiran hasil pengukurannya.
Keberhasilan pembelajaran pada ranah kognitif dan psikomotor dipengaruhi oleh kondisi afektif peserta didik. Peserta didik yang memiliki minat belajar dan sikap positif terhadap pelajaran akan merasa senang mempelajari mata pelajaran tertentu, sehingga dapat mencapai hasil pembelajaran yang optimal. Walaupun para pendidik sadar akan hal ini, namun belum banyak tindakan yang dilakukan pendidik secara sistematik untuk meningkatkan minat peserta didik. Oleh karena itu untuk mencapai hasil belajar yang optimal, dalam merancang program pembelajaran dan kegiatan pembelajaran bagi peserta didik, pendidik harus memperhatikan karakteristik afektif peserta didik.

c). Perkembangan Perilaku dan Implikasinya terhadap Pembelajaran
Teori Perilaku yang dikembangkan oleh Robert R. Sears memusatkan perhatian pada perilaku yang tampak (overt behavior). Rumusan perilaku Sears berdasar pada siklus Stimulus-Respon dan baginya perkembangan anak selalu berlangsung dalam unit perilaku didik (S-R). Menurut Sears (Maier 1978: 138) tujuan setiap individu ditentukan oleh interaksinya dengan orang lain, dan ia dilahirkan dengan kemampuan untuk belajar yang tak terbatas. Asumsinya tentang perilaku adalah sebagai berikut:
a.    Perilaku merupakan penyebab dan akibat dari perilaku berikutnya.
b.    Perilaku didorong sendiri oleh efek pengurangan ketegangan (tension-reduction effect).
c.    Suatu perilaku yang mendahului pencapaian tujuan mendapat penguatan karena perilaku itu diulang sebelum atau sesudah pencapaian tujuan.
d.    Semua perilaku yang diperkuat dengan ciri-ciri dorongan yang setara membentuk sistem motivasi sekunder.
e.    Siklus tindakan yang diketahui punya hukum tersendiri dan pola perkembangan adalah berontak, putus asa, ketergantungan dan identifikasi.
(Maier, 1978: 139)

Bertolak dari asumsi tersebut di atas, Sears (Maier, 1978: 142-163) mengemukakan adanya tiga tahap perkembangan perilaku, yaitu sebagai berikut:

Tahap I,    Perilaku rudimenter yang berdasar pada kebutuhan dari dalam dan belajar perilaku awal pada masa bayi.
Tahap II,    Sistem Motivasi Sekunder yang berdasar pada belajar yang berorientasi keluarga.
Tahap III,    Sistem Motivasi Sekunder yang berdasar pada proses belajar di luar keluarga.

Teori Sears ini membawa implikasi pentingnya penataan lingkungan sosial berupa hubungan antara pembelajar dengan pebelajar, pebelajar dengan pebelajar, pebelajar dan pembelajar dengan manusia lain. Dengan kata lain proses interaksi sosial merupakan jantungnya proses pembelajaran.
Di pihak lain muncul teori pembelajaran yang dikemukakan oleh Albert Bandura yang disebut teori pembelajaran sosial-kognitif dan disebut pula sebagai teori pembelajaran melalui peniruan. Berdasaran pada tiga asumsi, yaitu: pertama, bahwa individu melakukan pembelajaran dengan meniru apa yang ada di lingkungannya, terutama perilaku-perilaku orang lain. Asumsi yang kedua, ialah terdapat kaitan yang erat antara pelajar dengan lingkungannya. Asumsi yang ketiga, ialah bahwa hasil pembelajaran adalah berupa kode perilaku visual dan verbal yang diwujudkan dalam perilaku sehari-hari.
Atas dasar asumsi tersebut, maka teori pembelajaran Bandura disebut sosial-kognitif karena proses kognitif dalam diri individu memegang peranan dalam pembelajaran, sedangkan pembelajaran terjadi karena adanya pengaruh lingkungan sosial.
Proses pembelajaran menurut teori Bandura, terjadi dalam tiga komponen (unsur) yaitu:
(1) perilaku model (contoh)
(2) pengaruh perilaku model, dan
(3) proses internal pelajar.
Perilaku model ialah berbagai perilaku yang dikenal di lingkungan-nya. Apabila bersesuaian dengan keadaan dirinya (minat, pengalaman, cita-cita, tujuan, dsb.) maka perilaku itu akan ditiru.
Fungsi perilaku model ialah:
(1) untuk memindahkan informasi ke dalam diri individu,
(2) untuk mernperkuat atau memperlemah perilaku yang telah ada, dan
(3) untuk memindahkan pola-pola perilaku yang baru.

B. Konsep-Konsep Sosiologi dalam Rangka Pembelajaran
Dalam sosiologi proses pendidikan atau edukasi disebut proses sosialisasi yang oleh Durkeim (dalam Eggleston, 1977: 16) diarikan sebagai penyiapan secara metodologis/sistematis para pemuda untuk kehidupan dewasa di masyarakat. Belajar adalah jantungnya proses pendidikan atau sosialisasi dan pembelajaran adalah rekayasa sosial psikologis untuk memelihara denyut jantung itu. Dengan demikian seseorang akan berkembang sehat mencapai tingkat kedewasaan dan dapat hidup sebagai anggota masyarakat yang baik.
Proses pembelajaran merupakan proses pendidikan dalam arti sempit yakni pendidikan dalam dunia persekolahan. Karena sosialisasi mengandung pengertian pandidikan dalam arti luas (termasuk pendidikan di luar sekolah). Maka proses pembelajaran dapat diartikan sebagai proses sosialisasi dalam lingkup kecil.
Dari sudut pandang sosiologi sekolah termasuk salah satu pranata/lembaga sosial yang memiliki sistem. Sebagai suatu sistem sosial dalam masyarakat sekolah terdapat kelompok, dengan anggota yang memiliki status dan peran yang berbeda. Hubungannya satu sama lain diatur oleh norma yang diterima atau disepakati karena bersumber dari sistem nilai yang berlaku dalam masyarakat luas. Interaksi sosial terjadi bukan hanya antarwarga sekolah tetapi juga antarsekolah dan antara sekolah dengan pranata sosial lain dalam masyarakat.
Masyarakat sekolah dapat dianggap sebagai miniatur masyarakat luas, dan proses pembelajaran merupakan bagian yang tak terpisahkan dari proses sosialisasi. Segala yang dipelajari di sekolah seyogyanya dapat dimanfaatkan dalam masyarakat. Demikian pula sebaliknya segala yang baik yang ada di masyarakat seyogyanya disimulasikan atau dilatihkan di sekolah. Dengan demikian proses pembelajaran di sekolah selalu relevan dengan proses sosialisasi pada umumnya.
Untuk mewadahi ide dan misi sosialisasi melalui pembelajaran di sekolah, Joice dan Weil (1986) menawarkan pustaka metodologi yang dihimpun dalam keluarga pembelajaran model sosial (Social Models).
Inti dari model sosial ini adalah konsep “synergy” yaitu energy (tenaga kekuatan) yang terhimpunmelalui kerjasama sebagai salah satu fenomena kehidupan masyarakat. Dengan menerapkan model sosial pembelajaran diarahkan pada upaya melibatkan pebelajar dalam menghayati, mengkaji, menerapkan dan menerima fungsi dan peran sosial. Di antara model-model tersebut adalah model Investigas Kelompok, Model Bermain Peran, Model Penelitian Yurispradensial, Model Latihan Laboratoris, dan Model Penelitian Sosial.
Seperti dalam kehidupam masyarakat luas, di sekolah dikenal juga adanya kelompok, baik yang terbentuk dengan sendirinya seperti pertemanan atau yang sengaja di bentuk seperti organisasi sekolah. Bowditch dan Buono (1985: 104) mengemukakan ada lima kelompok dasar, yaitu:
1.    Kelompok primer atau sekunder.
Kelompok primer ditandai oleh hubungan interpersonal, misalnya keluarga atau persahabatan. Sedangkan kelompok sekunder ditandai oleh hubungan berorientasi tugas atau tujuan dan bersifat impersonal, misalnya kelompok kerja.
2.    Kelompok formal atau informal.
Kelompok formal ditandai oleh hubungan berorientasi tujuan atau tugas sebagai bagian dari organisasi, misalnya kelompok kerja departemen. Sedangkan kelompok informal ditandai oleh hubungan yang terus-menerus antar anggota organisasi, tidak terikat tujuan dan bersifat rekreasional dan interpersonal.
3.    Kelompok heterogen atau homogen.
Kelompok heterogen adalah kelompok yang di dalamnya menampung banyak perbedaan. Sedangkan kelompok homogen adalah kelompok yang di dalamnya mengandung banyak kesamaan.
4.    Kelompok interaktif atau nominal
Kelompok interaktif adalah kelompok yang anggotanya saling berhubungan secara langsung. Sedangkan kelompok nominal adalah kelompok yang interaksi antar anggotanya beralngsung secara tidak langsung.
5.    Kelompok permanen atau temporer.
Kelompok permanen adalah kelompok yang bekerja secara tetap atau terus-menerus. Sedangkan kelompok temporer adalah kelompok yang bekerja sesuai keperluan.

Setiap jenis kelompok punya kecenderungan menunjukkan perilaku yang berbeda. Perilaku kelompok dalam suatu organisasi sering disebut perilaku organisasional “organizational behavior”. Perilaku dipengaruhi oleh status individu dari kelompok, peran, norma, kohesiviyas dan pikiran kelompok. Status menunjuk pada tingkat atau kedudukan, misalnya ketua atau anggota. Peran menunjuk pada ane perilaku yang diharapkan berkaitan dengan status, misalnya keyua berperan memimpin, pemberi arah, pengendali dan sebagainya. Norma menunuk pad aide atau ukuran yang menjadi petunjuk perilaku, misalnya tata tertib. Kohesivitas menunjuk pada taraf keutuhan warga kelompok. Pikiran kelompok menunjuk pada pola perilaku kelompok yang eksklusif dan sukar ditembus.

C. Konsep-Konsep Komunikasi dalam Rangka Pembelajaran
Proses pembelajaran pada hakikatnya merupakan proses komunikasi antara pembelajar dan pebelajar serta antarpebelajar dalam rangka perubahan sikap. Karena itu baik konseptual maupun operasional konsep-konsep komunikasi dan perubahan sikap akan selalu melekat dalam pembelajaran. Untuk itu setiap pembelajar seyogyanya menguasai konsep dan prinsip komunikasi.
Rogers (1983: 17) member pengertian “komunikasi sebagai proses dimana para partisipan/peserta menciptakan dan saling berbagi informasi satu sama lain guna mencapai pengertian timbal balik”. Dalam pengertian tersebut proses komunikasi sekurang-kurangnya harus melibatkan dua orang. Karena itu komunikasi seperti ini sering disebut komunikasi interpersonal. Di samping itu memang ada bentuk komunikasi dalam diri seseorang yang dikenal dengan komunikasi intrapersonal.
Proses komunikasi pembelajaran melibatkan dua pihak yakni pembelajar (bisa seorang atau lebih) dan pebelajar yang biasanya lebih dari satu, paling tidak dalam ukuran kelas normal berjumlah 35-40 orang. Pembelajar memegang peran utama sebagai komunikator dan pebelajar memegang peran utama sebagai komunikan. Dalam praktek kedua peran itu dilakukan oleh kedua pihak dan kadar yang bervariasi. Masing-masing pihak pada gilirannya bertukar peran menjadi pemberi dan penerima informasi. Memang itulah makna berbagi informasi dalam komunikasi pembelajaran.
Komunikasi pembelajaran yang tidak menghasilkan proses belajar yang intensif dapat dinilai komunikasi yang gagal.
Marilah kita lihat bagaimana kaitan komunikasi dengan perubahan sikap. Dari definisi yang dikemukakan oleh Alport (1935) sikap dapat dijelaskan sebagai berikut :
a.    Sikap merupakan sesuatu yang kecenderungan dalam diri individu yang di wujudkan dalam bentuk kesiapan mental dan fisik .
b.    Sikap terwujudkan dalam respon atau tanggapan individu terhadap sesuatu atau sejumlah objek dan situasi yang dihadapi .
c.     Kecenderungan dan manifestasi itu diorganisasikan melalui pengalaman individu .
d.    Sikap berfungsi memberi arah dan langkah kepada individu yang diwujudkan dalam bentuk respon terhadap objek sikap .

Bila dianalisis, sikap memiliki tiga unsur yakni “kognisi, perasaan dan kecenderungan tindakan” (Krech, Crutchfield, dan Ballachey, 1962: 139) . unsur kognisi terdiri atas kepercayaan seseorang mengenai objek. Misalnya sikap Anda terhadap tetangga mencakup pengetahuan tentang asal usulnya, pekerjaannya; pengertian Anda mengenai tetangga itu apakah ia ramah, menyenangkan, atau disenangi. Sedangkan kecenderungan tindakan menunjuk pada kesiapan perilaku Anda berkaitan dengan tetangga itu misalnya siap membantu atau menolong .
Untuk masing-masing unsur sikap (kognisi, perasaan, dan kecenderungan tindakan) dapat memiliki kadar yang bervariasi. Demikian pula dalam kadar kerumitannya.
Perbedaan dalam kadar dan kerumitan unsur sikap itu menentukan apakah sikap bersifat sederhana (simpleks) atau rumit (multipleks). Contohnya sikap terhadap seseorang yang baru kita kenal sedikit atau belum lama akan berbeda dengan sikap terhadap seseorang yang telah bertahun-tahun dikenal. Makin banyak pengetahuan kita tentang suatu objek, sikap kita terhadap objek itu cenderung lebih multipleks. Dalam konteks pembelajaran dapat di ambil contoh sikap seseorang pembelajar terhadap pebelajar yang telah lama dibinanya akan lain dengan sikap terhadap pebelajar yang baru masuk dan belum banyak tahu tentang dari pebelajar tersebut .
Dalam kaitannya dengan proses komunikasi ada beberapa prinsip yang dapat dipakai sebagai pedoman dalam pembelajaran, antara lain sebagai berikut :
a.    Sikap seseorang dibentuk oleh informasi yang ia peroleh atau ia hadapi .
b.    Keterikatan seseorang pada kelompoknya banyak menentukan posisi sikapnya.
c.    Sikap seseorang mencerminkan sikap kepribadiannya.
d.    Perubahan sikap terjadi melalui penyajian informasi tambahan, perubahan keterikatan kelompok, penguatan , dan prosedur perubahan kepribadian.
e.    Arah dan tingkat perubahan sikap yang disebabkan oleh informasi tambahan merupakan fungsi dari faktor-faktor lingkungan, sumber, media, bentuk dan isi informasi. (Krech dan kawan-kawan, 1962:225-246).

About these ads

Tentang astitirahayu

saia maHasiswa.. yang masiH daLam pRoses beLajar,, ,,tapiii,, memPunyai keinGinan kuAt unTuk biZa ,, ,tetap berusaha jaDi yg tErbaik tuK gapai miMpi.. ;,,keep smiLe,,

»

  1. Staubsauger Test mengatakan:

    I am continuously invstigating online for ideas that can help me. Thanks!

  2. siiboy mengatakan:

    wahhh,,keren info’y
    makasih yaa,,info yang sangat pass untuk tugas mata kuliah quw,,

SiLahkaN koMentaR di bawah iNii khawand''....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s