Sekilas mendengar kota Jakarta, menimbulkan banyak bayangan di setiap pikiran kita seperti Jakarta adalah ibu kota Negara Indonesia sehingga kadang kita berfikir Jakarta kota mewah, gedung – gedung tinggi, banyak artisnya, tapi di balik itu kota jakarta juga menyimpan berbagai tanggapan bagi penduduk daerah setempat yang telah merasakan dunia Jakarta sesungguhnya  seperti  kehidupan yang keras, sehingga kadang banyak yang menyebutkan bahwa ibu kota lebih kejam dari ibu tiri. Baiklah untuk selanjutnya saya selaku peserta KKL UNMAS Denpasar akan menguraikan beberapa pengamatan terkait dengan kegiatan – kegiatan KKL yang telah di langsungkan di daerah Jakarta ini.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Keberangkatan peserta KKL pada hari senin, 12 Desember 2011 pukul 06:30 WITA, memerlukan perjalanan panjang untuk bisa tiba di Jakarta, butuh waktu hingga seharian di dalam bus  dan kadang mampir di sebuah pura “Rambut Siwi” itu pun masih di daerah Tabanan, BaLi hanya untuk melakukan persembahyangan , dan setelah berjam-jam perjalanan dilanjutkan akhirnya mampir di sebuah rumah makan pada siang hari, begitu juga pada malam hari hanya sekedar untuk mengisi perut yang telah kosong akibat kelelahan d perjalanan serharian. Merasakan lelah, payah, bosan , menginap semalamam di bus,hingga muncul keinginan untuk kembali pulang namun rasa itu mampu terabaikan.  Hingga tiba esok hari terbangun oleh bisikan teman sebelah yang senantiasa membangunkan untuk turun dari bus dan bersiap – siap untuk mandi dan sarapan di sebuah rumah makan di daerah Cirebon, ingin rasanya cepat sampai Jakarta, namun masih memerlukan perjalanan cukup panjang hingga akhirnya sore hari telah memasuki daerah Jakarta. Waah,, memang indah dan banyak gedung tinggi , begitu juga daerah – daerah pinggirannya sama seperti tayangan di tv – tv masih banyak sungai kotor, perumahan kumuh dan macet yang luar biasa.  Dan lokasi pertama yang kami kunjungi di Jakarta adalah ITC Cempaka Mas pusat perbelanjaan besar, mewah, dan cukup murah, tak bnyak hal yang bisa saya ceritakan disini selain pengalaman nyasar mencari parkiran bus karena saking luas tempat belanja ini, namun nyasar tak sendiri tetep masih ada teman – teman setia yang ikut walaupun sampai nyasar,he..

Perjalanan pun di lanjutkan hingga akhirnya tiba di Pura Gunung Salak, Bogor. Tepat pukul 24:00 WITA persembahyangan dilakukan dengan sangat khusuk, betapa indahnya suasana Pura Gunung Salak ini, namun waktu yang di berikan tak lama hanya untuk persembahyangan dan sedikit mencuri waktu untuk sekedar mengabadikan gambar bersama teman – teman di tempat ini. Hal yang sangat kami nantikan pun tiba, akhirnya pada pukul 03:00 WIB tiba di hotel pertama kami menginap di daerah Jakarta, yaitu Hotel Jatra  hanya sempat membaringkan badan.

Keesokan harinya siap berangkat menuju MONUMEN NASIONAL yang sering dikenal dengan nama MONAS, sedikit informasi yang saya dapatkan mengenai tugu ini. Tugu Monas terletak di Lapangan Monas, Jakarta Pusat, dibangun pada tahun 1960. Monumen Nasional adalah salah satu dari monumen peringatan yang didirikan untuk mengenang perlawanan dan perjuangan rakyat Indonesia melawan penjajah Belanda.

Bentuk Tugu peringatan yang satu ini sangat unik, merupakan batu obeliks yang terbuat dari marmer yang berbentuk lingga yoni simbol kesuburan berdasarkan kebudayaan hindu. Tugu ini menjulang setinggi 132 meter (versi lain mengatakan 137 meter dihitung dengan tinggi ruang yang ada di bawah tanah 5 meter).

Di puncak Monumen Nasional terdapat cawan yang menopang berbentuk nyala obor perunggu yang beratnya mencapai 14,5 ton dan dilapisi emas 35 kg. Obor atau lidah api yang menyala-nyala ini merupakan simbol semangat perjuangan rakyat Indonesia yang tak pernah padam dalam meraih kemerdekaan. Pelataran puncak luasnya 11×11 m. Untuk mencapai pelataran puncak, pengunjung bisa menggunakan lift dengan lama perjalanan sekitar 3 menit. Sedangkan Pelataran bawah luasnya 45×45 m. Tinggi dari dasar Monas ke pelataran bawah yaitu 17 meter. Di bagian bawah Monas terdapat sebuah ruangan yang luas yaitu Museum Nasional. Tingginya yaitu 8 meter. Museum ini menampilkan sejarah perjuangan Bangsa Indonesia. Luas dari museum ini adalah 80×80 m. Tugu Peringatan Nasional dibangun di areal seluas 80 hektar. Arsitek yang merancang tugu ini adalah Soedarsono dan Frederich Silaban, dengan konsultan Ir. Rooseno, mulai dibangun Agustus 1959, dan diresmikan 17 Agustus 1961 oleh Presiden RI Soekarno. Monas resmi dibuka untuk umum pada tanggal 12 Juli 1975. Demikian info menarik dari MONAS. Tak lupa saya membeli sedikit cendra mata untuk saya bawa pulang.

Perjalanan selanjutnya menuju DUNIA FANTASI alias DUFAN untuk melepas penat dan menikmati wahana serta hiburan – hiburan yang ada. Dufan merupakan tempat hiburan terbesar di Jakarta yang menarik. Dufan yang terletak di kawasan Ancol Taman Impian, Jakarta Utara, menjadi tempat tujuan rekreasi baik bagi warga Jakarta maupun luar kota Jakarta termasuk saya. Tak ingin melewatkan kesempatan, saya bersama teman – teman – teman mulai mencoba berbagai wahana, mulai dari rumah miring dengan kemiringan sekitar 30 derajat, Hasil foto, akan memperlihatkan seolah-olah orang yang berfoto berdiri miring di atas lantai “Terjadi semacam disorientasi”,  rumah jahil melatih imajinasi dan kemampuan mengingat serta menganalisis keadaan sehingga mampu menuju jalan keluar walaupun banyak rintangan, Kora-Kora dengan menyerupai perahu besar, Anda akan diayun sampai posisi hampir 90 derajat sehingga tubuh hampir tegak lurus dengan tanah, Selanjutnya wahana kincir raksasa Bianglala, dengan ketinggian 33 meter sehingga kami pun dapat melihat seluruh wahana dan bangunan yang ada di sekitar Dunia Fantasi dan juga melihat sebagian Laut Jawa melalui wahana ini. Dan terakhir alap-alap sejenis Roller coaster mini tapi sempat bikin jantung copot dengan kecepatan mendekati 100 km/jam dibawa meluncur, menukik, melesat, dan menerobos serasa terpental,walau hanya 3 putaran. Hmm,, menyenagkan. Keinginan mencoba wahana yang lebih memacu adrenalin namun keinginan itu pupus akibat halangan waktu yang telah habis yaitu Hysteria berupa menara setinggi 56 meter. Di wahana ini, pengunjung dapat merasakan desiran adrenalin saat ditembakkan ke atas dengan kecepatan mencapai 4G dan kemudian dijatuhkan dengan kapasitas minus 1G. Satu menara memiliki kapasitas 12 tempat duduk. Namun keinginan itu pupus akibat halangan waktu yang telah habis. Sudah cukup kami menikmati DUFAN hari ini,

Perjalanan dilanjutkan menuju TAMAN MINI INDONESIA INDAH atau TMII yang merupakan suatu kawasan taman wisata bertema budaya Indonesia di Jakarta Timur. Area seluas kurang lebih 150 hektar atau 1,5 kilometer persegi . Taman ini merupakan rangkuman kebudayaan bangsa Indonesia, yang mencakup berbagai aspek kehidupan sehari-hari masyarakat 26 provinsi Indonesia (pada tahun 1975) yang ditampilkan dalam anjungan daerah berarsitektur tradisional, seta menampilkan aneka busana, tarian dan tradisi daerah. Rencana untuk menikmati permainan dan suasana TMII gagal akibat terhalang waktu dan keadaan karena kita sampai pada malam hari sehingga hanaya dapat melakukan persembahyangan di Pura Hindu Dharma Penataran Agung Kertabhumi serta makan malam saja.

Perjalanan keliling kota Jakarta pun berakhir. Banyak kesan yang saya dapatkan di daerah ini.

Adapun beberapa hasil pengamatan saya terkait pembelajaran matematika dalam kegiatan KKL di Jakarta ini, yaitu :

a. Pengukuran tinggi, yaitu terkait tinggi MONAS 132 meter (versi lain mengatakan 137 meter dihitung dengan tinggi ruang yang ada di bawah tanah 5 meter). Tinggi dari dasar Monas ke pelataran bawah yaitu 17 meter. Museum Nasional yang tingginya yaitu 8 meter.

b. Pengukuran berat nyala obor perunggu Monas yang beratnya mencapai 14,5 ton dan dilapisi emas 35 kg.

c. pengukuran luas, Pelataran puncak luasnya 11×11 m. Pelataran bawah luasnya 45×45 m. Luas dari museum nasional MONAS ini adalah 80×80 m. Sedangkan Tugu Peringatan Nasional dibangun di areal seluas 80 hektar. Dan TMII dengan area seluas kurang lebih 150 hektar atau 1,5 kilometer persegi .

d. Terkait materi pengukuran sudut, rumah miring dengan kemiringan sekitar 30 derajat, Kora-Kora dengan menyerupai perahu besar yang berayun sampai posisi hampir 90 derajat.

e. Pengukuran tinggi wahana kincir raksasa Bianglala, dengan ketinggian 33 meter, Hysteria berupa menara setinggi 56 meter.

f. Perhitungan kecepatan wahana alap – alap dan hysteria dengan tepat agar tidak membahayakan.

g. Serta pemanfaatan konsep materi pencerminan (refleksi) dalam wahana rumah jahil (rumah kaca)

About astitirahayu

saia maHasiswa.. yang masiH daLam pRoses beLajar,, ,,tapiii,, memPunyai keinGinan kuAt unTuk biZa ,, ,tetap berusaha jaDi yg tErbaik tuK gapai miMpi.. ;,,keep smiLe,,

2 responses »

  1. Dexter Halon mengatakan:

    That is really attention-grabbing, You’re an excessively skilled blogger. I have joined your feed and look forward to looking for extra of your great post. Additionally, I’ve shared your website in my social networks!

  2. Marcos Heybrock mengatakan:

    Thanks so much for giving everyone an extremely spectacular possiblity to read critical reviews from this web site. It is always very beneficial and stuffed with a great time for me and my office acquaintances to search the blog the equivalent of 3 times in 7 days to find out the new tips you will have. And of course, I’m so certainly impressed with your fantastic pointers you serve. Certain 2 ideas in this posting are surely the most suitable we have all ever had.

SiLahkaN koMentaR di bawah iNii khawand''....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s