Setelah empat hari berlalu berkelling kota Jakarta dan bandung, kini tiba saatnya hari kelima kami tiba di kota Yogyakarta yang lebih sering kita dengar kota jogja. Kami tiba di sebuah rumah makan untuk transit mandi dan sarapan sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan menuju lokasi kunjungan selanjutnya. Daerah Istimewa Yogyakarta yang terletak di bagian selatan Pulau Jawa bagian tengah, Daerah Istimewa ini memiliki luas 3.185,80 km2. Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi tempat tujuan wisata andalan setelah Provinsi Bali, sehingga tak salah jika kami memilih kota ini sebagai salah satu tujuan study tour kami.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Tujuan pertama kami di jogja adalah sebuah objek utama di kota jogja yang tentunya tak asing bagi kita yaitu Keraton Yogyakarta.


Setelah melalui beberapa menit perjalanan sembari menikmati kota jogja di pagi ahari, akhirnya kami sampai juga di Keraton Yogyakarta. Bangunan Bersejarah yang merupakan istana dan tempat tinggal dari Sultan Hamengku Buwana dan keluarganya ini mulai didirikan oleh Sultan Hamengku Buwono I beberapa bulan pasca Perjanjian Giyanti di tahun 1755. Kraton Yogyakarta dengan segala adat istiadat dan budayanya menjadi ruh kehidupan masyarakat Yogyakarta.

Begitu luas dan megah keratin ini. Kami berkeliling keratin dipandu oleh para abdi dalem keratin yang senantiasa menceritakan dan berbagi informasi seputar bangunan serta peninggalan – peninggalan sejarah keraton Yogyakarta. Tentu menarik dan mengagumkan, banyak informasi yang kami dapatkan melalui kunjungan ini. Di Kraton Yogyakarta di samping dapat dinikmati keindahan masa lalu melalui arsitektur bangunannya, dapat juga dinikmati kesenian tradisional yang disajikan setiap harinya di Bangsal Manganti. Secara fisik istana para Sultan Yogyakarta memiliki tujuh kompleks inti yaitu Siti Hinggil Ler (Balairung Utara), Kamandhungan Ler (Kamandhungan Utara), Sri Manganti, Kedhaton, Kamagangan, Kamandhungan Kidul (Kamandhungan Selatan), dan Siti Hinggil Kidul (Balairung Selatan). Selain itu Keraton Yogyakarta memiliki berbagai warisan budaya baik yang berbentuk upacara maupun benda-benda kuno dan bersejarah. Di sisi lain, Keraton Yogyakarta juga merupakan suatu lembaga adat lengkap dengan pemangku adatnya. Oleh karenanya tidaklah mengherankan jika nilai-nilai filosofi begitu pula mitologi menyelubungi Keraton Yogyakarta. Sembari mengamati sekeliling, pemandu pun memberikan kami kesempatan untuk mengabadikan gambar serta bangunan – bangunan di sekitar. Hingga pada akhirnya kami merasa bahwa waktu kunjungan kami hampir berakhir, sehingga kami pun tergesa – gesa menuju lokasi bus yang juga kami belum mengetahuinya. Tak sadar ternyata kami melalui jalan keluar yang berbeda dengan rombongan kami yang lain, halhasil, saya dan 9 teman lainnya yang memang merupakan satu grup menjadi tersesat danh memerlukan waktu yang cukup lama untuk kembali ke tempat rombongan jika berjalan kaki. Namun, tak lengkap rasanya jika berkunjung ke kota jogja belum dapat menikmati naik becak, mengambil hikmah di balik musibah, sampailah kami di tempat bus dan rombongan dalam waktu sepuluh menit. Rasa was –was, takut, serta malu pun bercampur karena rombongan kami telah cukup lama menunggu. Hufzz.. pengalaman yang melelahkan dan menyenangkan kali ini.

Setelah meninggalkan Keraton Yogyakarta, selanjutnya kami menuju Candi Budha yang berlokasi 40 km di sebelah barat laut Yogyakarta, yaitu Candi Borobudur yang merupakan candi Budha terbesar di abad ke-9 yang berukuran 123 x 123 meter. Candi berbentuk stupa ini didirikan oleh para penganut agama Buddha Mahayana sekitar tahun 800-an Masehi pada masa pemerintahan wangsa Syailendra. Candi Budha ini memiliki 1460 relief dan 504 stupa Budha di kompleksnya.

Jutaan orang mendamba untuk mengunjungi bangunan yang termasuk dalam World Wonder Heritages ini. Tak mengherankan, sebab secara arsitektural maupun fungsinya sebagai tempat ibadah, Borobudur memang memikat hati. Bangunan Borobudur berbentuk punden berundak terdiri dari 10 tingkat. Tingginya 42 meter sebelum direnovasi dan 34,5 meter setelah direnovasi karena tingkat paling bawah digunakan sebagai penahan. Enam tingkat paling bawah berbentuk bujur sangkar dan tiga tingkat di atasnya berbentuk lingkaran dan satu tingkat tertinggi yang berupa stupa Budha yang menghadap ke arah barat. Setiap tingkatan melambangkan tahapan kehidupan manusia. Sesuai mahzab Budha Mahayana, setiap orang yang ingin mencapai tingkat sebagai Budha mesti melalui setiap tingkatan kehidupan tersebut. Sangat mengagumkan dan tak ternilai rasanya kami dapat menikmati kemegahannya walaupun hujan gerimis menyambut kedatangan kami. Ojek payung pun tak kalah heboh mencari pelanggan. Borobudur kini masih digunakan sebagai tempat ziarah keagamaan, tiap tahun umat Buddha yang datang dari seluruh Indonesia dan mancanegara berkumpul di Borobudur untuk memperingati Trisuci Waisak. Dalam dunia pariwisata, Borobudur adalah obyek wisata tunggal di Indonesia yang paling banyak dikunjungi wisatawan. Walaupun hanya kurang lebih satu jam saja kami menikmati keindahan sembari mengabadikan gambar, namun kepuasannya sangat terasa.

Kunjungan Candi Borobudur pun berlalu. Rasa lelah pun menghampiri, rencana kami langsung menuju pusat Belanja Malioboro pun ditunda karena cuaca dan kondisi yang kurang mendukung, sehingga kami langsung menuju hotel Brongto Yogyakarta untuk beristirahat sejenak, mandi serta makan malam sebelum melanjutkan kembali menuju Jalan Karangan Bunga dan Surga Cinderamata di Jantung Kota Jogja yaitu Malioboro.

Kawasan Malioboro sebagai salah satu kawasan wisata belanja andalan kota Jogja, ini didukung oleh adanya pertokoan, rumah makan, pusat perbelanjaan, dan tak ketinggalan para pedagang kaki limanya. Untuk pertokoan, pusat perbelanjaan dan rumah makan yang ada sebenarnya sama seperti pusat bisnis dan belanja di kota-kota besar lainnya, yang disemarakan dengan nama-merk besar dan ada juga nama-nama lokal. Barang yang diperdagangkan dari barang import maupun lokal, dari kebutuhan sehari-hari sampai dengan barang elektronika, mebel dan lain sebagainya. Di Malioboro Anda bisa memborong aneka barang yang diinginkan mulai dari pernik cantik, cinderamata unik, batik klasik, emas dan permata hingga peralatan rumah tangga. Bagi penggemar cinderamata, Malioboro menjadi surga perburuan yang asyik. Berjalan kaki di bahu jalan sambil menawar aneka barang yang dijual oleh pedagang kaki lima akan menjadi pengalaman tersendiri. Aneka cinderamata buatan lokal seperti batik, hiasan rotan, perak, kerajinan bambu, wayang kulit, blangkon, miniatur kendaraan tradisional, asesoris, hingga gantungan kunci semua bisa ditemukan dengan mudah. Jika pandai menawar, barang-barang tersebut bisa dibawa pulang dengan harga yang terbilang murah. Terdapat pula tempat penukaran mata uang asing, bank, hotel bintang lima hingga tipe melati. Malioboro adalah rangkaian sejarah, kisah, dan kenangan yang saling berkelindan di tiap benak orang yang pernah menyambanginya. Pesona jalan ini tak pernah pudar oleh jaman. Eksotisme Malioboro terus berpendar hingga kini dan menginspirasi banyak orang, serta memaksa mereka untuk terus kembali ke Yogyakarta.

Keesokan harinya waktunya kami berkunjung ke Candi Prambanan yang terletak persis di perbatasan propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan propinsi Jawa Tengahdan sekaligus merupakan lokasi kunjungan terakhir kami. Letaknya kurang lebih 17 km ke arah timur dari kota Yogyakarta, 40 km barat Surakarta dan 120 km selatan Semarang, persis di perbatasan antara provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Komplek candi Prambanan berdiri 200 meter sebelah utara Jl. Raya Yogya-Solo. Sedangkan untuk pintu masuk taman wisata candi Prambanan dari arah sebelah timur. Candi ini adalah kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia, dan sekaligus merupakan Candi Hindu Tercantik di Dunia.

Candi ini dibangun pada sekitar tahun 850 Masehi. Bangunannya yang langsing dan menjulang setinggi 47 meter (5 meter lebih tinggi dari Candi Borobudur) membuat kecantikan arsitekturnya tak tertandingi. Candi Prambanan memiliki 3 candi utama di halaman utama, yaitu Candi Wisnu, Brahma, dan Siwa. Ketiga candi tersebut adalah lambang Trimurti dalam kepercayaan Hindu. Ketiga candi itu menghadap ke timur. Setiap candi utama memiliki satu candi pendamping yang menghadap ke barat, yaitu Nandini untuk Siwa, Angsa untuk Brahma, dan Garuda untuk Wisnu. Selain itu, masih terdapat 2 candi apit, 4 candi kelir, dan 4 candi sudut. Sementara, halaman kedua memiliki 224 candi.

Demikian sepenggal cerita KKL di Yogyakarta,  berikut ini beberapa hasil pengamatan saya yang berkaitan dengan pembelajaran matematika :

a. Terkait dengan materi pengukuran, yaitu Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki luas 3.185,80 km2.

b. Pengukuran Bangunan Borobudur, berukuran 123 x 123 meter berbentuk punden berundak terdiri dari 10 tingkat. Tingginya 42 meter sebelum direnovasi dan 34,5 meter setelah direnovasi. Candi Budha ini memiliki 1460 relief dan 504 stupa Budha di kompleksnya.

c. Pengukuran jarak Candi Prambanan yang letaknya kurang lebih 17 km ke arah timur dari kota Yogyakarta, 40 km barat Surakarta dan 120 km selatan Semarang, persis di perbatasan antara provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Bangunannya yang langsing dan menjulang setinggi 47 meter (5 meter lebih tinggi dari Candi Borobudur.

d. Pada Candi Prambanan juga banyak menggunakan angka – angka dalam perhitungan dan penjumlahan setiap candi, seperti pada halaman kedua candi ini terdapat 224 candi.

e. Arsitektural setiap candi yang memiliki bentuk berbeda – beda tentunya memerlukan perhitungan yang tepat dalam pembangunannya seperti menghitung tinggi, volume serta, luas yang diperlukan dalam pembangunannya.

About astitirahayu

saia maHasiswa.. yang masiH daLam pRoses beLajar,, ,,tapiii,, memPunyai keinGinan kuAt unTuk biZa ,, ,tetap berusaha jaDi yg tErbaik tuK gapai miMpi.. ;,,keep smiLe,,

SiLahkaN koMentaR di bawah iNii khawand''....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s