REFLEKSI          : KELOMPOK  4
NAMA                  : NI LUH PUTU ASTITI RAHAYU
NPM                      : 09.8.03.51.30.15.1447
SEMESTER        : V

ASAS SOSIOLOGI

Masyarakat dewasa ini senantiasa berubah dan terus menerus akan berubah. Masyarakat kita sekarang jauh berlainan daripada masyarakat nenek moyang kita dan berlainan pula dengan masyarakat yang dihadapi oleh anak cucu kita besok. Segala perubahan itu sedikit banyak mempengaruhi cara hidup dan cara berpikir manusia. Pada prinsipnya masyarakat selalu dinamai dan senantiasa akan berubah. Dehingga Kurikulum harus disesuaikan dengan gerak-gerak dan perubahan masyarakat. Isi kurikulum harus senantiasa dapat berubah sesuai dengan perkembangan masyarakat. Bentuk kurikulum harus fleksibel, yakni dapat terbuka terbuka kesempatan untuk memberikan bahan pelajaran yang penting yang perlu bagi murid-murid pada saat dan tempat tertentu. Hanya dengan jalan demikian sekolah dapat memberikan pendidikan yang fungsional , sehinnga anak-anak benar-benar dipersiapkan untuk menghadapi masalah-masalah di dalam masyarakat tempat dia hidup.
Anak tidak hidup sendiri terisolasi dari manusia lainnya, ia selalu hidup dalam suatu masyarakat. Di situ ia harus memenuhi tugas-tugas yang harus dilakukannya dengan penuh tanggung jawab, baik sebagai anak, maupun sebagai orang dewasa kelak. Ia banyak menerima jasa dari masyarakat dan ia sebaliknya harus menyumbangkan baktinya bagi kemajuan masyarakat. Tuntutan masyarakat tak dapat diabaikannya. Tiap masyarakat mempunyai norma-norma, adat kebiasaan yang tak dapat tiada harus dikenal dan diwujudkan anak dalam pribadinya lalu dinyatakannya dalam kelakuannya. Tiap masyara¬kat berlainan corak nilai-nilai yang dianutnya. Tiap anak akan berbeda latar belakang kebudayaannya. Perbedaan ini harus di¬pertimbangkan dalam kurikulum. Juga perubahan masyarakat aki¬bat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan faktor pertimbangan dalam kurikulum.
Kurikulum adalah sesuatu yang direncanakan sebagai pegangan guna mencapai tujuan pendidikan. Apa yang direncanakan biasanya bersifat idea, suatu cita-cita tentang manusia atau warga negara yang akan dibentuk. Kurikulum ini lazim mengandung harapan-harapan yang sering berbunyi muluk-muluk.
Suatu kurikulum pada prinsipnya mencerminkan keinginan, cita-cita dan kebutuhan masyarakat. Dalam kaitannya dengan asas sosiologi, dalam mengambil keputusan tentang kurikulum para pengembang kurikulum hendaknya merujuk pada lingkungan atau dunia dimana mereka tinggal, merespon terhadap berbagai kebutuhan yang dilontarkan atau diusulkan oleh beragam golongan dalam masyarakat. Sangat banyak kebutuhan masyarakat yang harus dipilah-pilah, disaring dan diseleksi agar menjadi suatu keputusan dalam pengembangan kurikulum. Asas sosiologi ini, berkenaan dengan penyampaian kebudayaan, proses sosialisasi individu, dan rekonstruksi masyarakat.  Landasan social budaya, tidak semata – mata hanya digunakan dalam pengembangan kurikulum dalam tingkat nasional, melainkan juga bagi guru dalam pembinaan kurikulum tingkat sekolah, atau bahkan tingkat pengajaran.
Mengingat sebagai warga masyarakat dengan banyak adat dan budaya serta tata kehidupan yang berbeda- beda, sangat penting untuk dipertimbangkan dalam pembuatan kurikulum sekolah.  Sehingga penerapan kurikulum tersebut dapat menyesuaikan dengan kondisi masyarakat setempat tanpa harus merubah kurikulum yang ditetapkan. Misalkan saja, kurikulum yang berlaku saat ini adalah kurikulum KTSP, setiap sekolah akan tetap menggunakan KTSP sebagai acuan pendidikannya tetapi penerapannya yang berbeda, seperti tambahan pelajaran muatan lokal bahasa daerah yang harus disesuaikan dengan daerah masing – masing. tentu kurikulum tersebut harus fleksibel sesuai keperluan agar kegiatan pembelajaran serta tujuan pembelajaran dapat berjalan maksimal.
Adapun kaitan antara pembuatan kurikulum dengan penerapan peserta didik dalam kehidupan bermasyarakat yaitu, dengan adanya sistem kurikulum yang disesuaikan dengan kehidupan masyarakat sehari – hari siswa pu akan mampu menerapkannya, seperti pembelajaran bahasa daerah di sekolah masing- masing maka siswa akan mampu mempraktekkan, serta memanfaatkan hasil keterampilannya di sekolah untuk berinteraksi dengan warga masyarakat setempat dengan baik. Selain itu, secara individu, siswa pun akan mendapatkan hasil yang diharapkan serta bermanfaat untuk dirinya sendiri.
Oleh sebab itu, masyarakat suatu faktor yang begitu penting dalam pengembangan kurikulum, maka masyarakat dijadikan salah satu asas. Dalam hal ini pun harus kita jaga, agar asas ini jangan terlampau mendominasi sehingga timbul kurikulum yang berpu¬sat pada masyarakat atau “society-centered curriculum”. Melainkan tetap menyeimbangkannya untuk memperoleh hasil yang diharapkan bersama.

About astitirahayu

saia maHasiswa.. yang masiH daLam pRoses beLajar,, ,,tapiii,, memPunyai keinGinan kuAt unTuk biZa ,, ,tetap berusaha jaDi yg tErbaik tuK gapai miMpi.. ;,,keep smiLe,,

SiLahkaN koMentaR di bawah iNii khawand''....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s